Suatu Hari
di Bumi, Bagian Barat Pulau Jawa. Kala itu senja, kau dan aku baru saja
menginjakan kaki ditempat yang baru ini. Udara segar, tampilan alam yang hijau,
jauh dari keriuhan ibukota, tepat sekali menjadi pelepas rindu kami akan
pemandangan hijau nan sejuk. Kenangan lalu, saat di Baturraden pun kembali
berputar. yang kehijauannya selalu membuat kami rindu situasi serupa, maka
terbayarlah kerinduan kami setibanya di sini, Puncak, Kabupaten Bogor.
.
Tssah..
sendu amat bahasanya. Kali ini, lagi-lagi ketika iseng buka arsip lama. Tulisan
yang dibuat sekitar 5 tahun yang lalu ini rangkaian bahasa nya bener-bener
‘nggilani’ wkwkwk.. Pasalnya, ini dibuat pada zaman ketika saya masih alay
dulu. Namanya aja masih mude, yeekan! Alay dikit gak apa-apa lah.
Kebun Teh
Puncak, Kebun Raya Cibodas (Bogor)
Sore ini
hujan turun ditambah udara yang dingin, mengingatkan akan kenangan jalan-jalan
ke Puncak 2 bulan yang lalu. Jadi pengen honeymoon lagi deh *nyengir*
Mendadak si
honey ngajak honeymoon di Puncak. Dikira naik kereta atau apa ternyata naik
motor. Asiiiik, kangen banget jalan jauh naik motor. Trip kali ini judulnya
ekono-mantis. Biar ekonomis berasa romantis wkwk.. Setelah packing-packing
keperluan honeymoon nya, kamipun berangkat sekitar jam 9 pagi dengan titik awal
rumah, serpong, pamulang, parung, bogor, ciawi and titik akhir puncak finaly.
Setelah
ngeeeeng.. ngeeeeng.. dan brumm.. brumm.. Sampailah kami di Puncak.
Menikmati
udara segar, melihat pemandangan alam yang hijau dan jauh dari keriuhan ibukota
memang pas sekali menjadi pelepas rindu kami akan pemandangan hijau dan sejuk.
Terakhir memang kami sempat mengunjungi wisata Baturraden yang kehijauannya
selalu membuat kami rindu situasi serupa, maka terbayarlah kerinduan kami
setibanya di Puncak.
Sebelum
sampai tepat di "Puncak" hujan sempat turun cukup deras kamipun
menepi disebuah warung kecil dipinggiran jalan raya, sembari istirahat sebentar
untuk meluruskan kaki yang mulai terasa pegal sekaligus mengisi kerongkongan
yang mulai kering dengan air, kamipun segera memesan secangkir kopi dan makan
semangkuk mie goyeng, lumayan menghangatkan badan kami yang kedinginan oleh
udara dataran tinggi yang eksrim ditambah guyuran hujan lebat disekeliling
warung tersebut. Subhanallah, berada ditempat itu saja sudah segini indahnya.
Mungkin begini cara saya mendeskripsikan tempat tersebut,
Melanjutkan
perjalanan, selepas Ciawi mengarah ke Puncak mulai terasa angin yang sangat
dingin menusuk kulit padahal kami mengenakan jaket double. Makin mengarah atas
menuju Puncak, udara dingin terasa menusuk, badanpun makin menggigil. Si pak
supirpun kece pun beberapa kali ia harus merilekskan tangannya dengan
dikepal-kepalkan. Saat itu pukul 2 atau 3 sore (apa siang ya? he?) namun udara
serta cuaca puncak membuat hari terlihat lebih gelap. Pokoknya kalu di
Tangerang tuh cuaca kaya gini berasa udah jam 5 atau jam 6 sore gitu, weew..
Sekitar jam
3 sore kami tiba di tepat di Puncak. Dalam rangka honeymoon kami
menghabiskan waktu 2 hari 1 malam yaitu Sabtu dan Minggu, maka hal pertama yang
kami tuju adalah semacam tempat menginap yang murah meriah namun tetap membuat
kami feel like home. Di sisi kiri dan kanan jalanan menuju kawasan
Puncak ini, banyak sekali terlihat orang yang membawa papan berukuran kecil
serta senter, tulisan di papan itu adalah ‘Villa/kamar disewakan’ dan mereka
adalah semacam calo yang menawarkan jasa. Karena ini kali pertama bagi kami
menyambangi Puncak awaalnya kami agak bingung akan menginap dimana. Tapi
alhamdulillah kami mendapatkan losmen yang lumayan asik tapi tetep terjangkau.
Ruang kamar dengan fasilitas tempat tidur, TV, alat-alat nge-teh, kamar mandi
unik seharga Rp. 250. 000/kamar, sudah lumayan Ehem.. *mesem*
Setelah usai
melepas lelah sebentar, sudah bobo, sudah mandi, sudah mam, sudah sholat,
akupun merengek ke si honey untuk segera jalan-jalan menikmati suasana Puncak
di sore hari. Saat itu waktu menunjukan pukul 5, akhirnya honey mengajakku jjs,
yeay..
Eh, sedikit
cerita nih tentang mandi di Puncak. Dinginnya itu masyaAllah gak karuan.
Bayangkan dengan baju double empat lapis saja saya masih merasa dingin sampai
seluruh tubuh gemetar, padahal itu berada didalam kamar, hawa di luar ruangan
dua kali lipatnya lagi lho. Apalagi harus mandi dengan air yang dinginnya kaya
lagi ikut ice bucket challenge wkwkwk.. gak pagi, gak siang, gak sore
lebih ekstrim lagi dimalam hari, sampai sulit buat bobo nyenyak karena
dikit-dikit pipis hehehe..
Kembali ke
laptop, jjs kami jatuhkan pilihan pada kawasan Puncak Pass, tepatnya di
dekat restoran Rindu alam 1, terlihat banyak sekali kendaraan baik mobil maupun
motor yang diparkir di tempat ini. Kamipun segera mencari tempat untuk memarkir
motor, banyak sekali rombongan anak-anak muda yang sedang menikmati dinginnya
suasana malam di tempat ini, yang banyak terlihat juga tentu saja pasangan
muda-mudi yang terlihat saling selfie, tak ingin kalah akupun saking
semangatnya berlari untuk ber-selfie ria dengan senjata andalan yaitu
digicam dan tongsis *poseposegakjelas*
Puas
foto-foto kemudian kami masuk ke sebuah warung, dari penampilan sangatlah biasa
dan makanan yang disajikanpun sangat umum, kami memesan satu porsi nasi goreng,
satu porsi nasi timbel, dan 2 gelas teh manis hangat seharga Rp. 60.000.
Selepas
kenyang dan ngantuk kami bergegas beristirahat menuju penginapan, setelah
sebelumnya mencari pom bensin yang jauhnya gak karuan, weleh..
Day One,
done!
Bangun-bangun
si honey tau-tau udah keliling nyari sarapan, curang deh gak ajak-ajak. Pasti
seru bisa olahraga pagi tuh. Kami sarapan dengan dua bungkus nasi uduk -yang
kata sipenjualnya- spesial seharga Rp. 22.000, lalu lanjut berwisata mengikuti
kaki melangkah.
Bosan
berkeliling kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Kebun Teh di daerah Puncak
dengan htm Rp. 5000/org. Sepanjang mata memandang hanya warna hijau yang
terlihat. Sambil menikmati pemandangan, seperti biasa kami pun kembali
berselfie sambil becanda mesra gitu, mumpung latar nya nyess *narinarigakjelas*
Setelah puas berkejar-kejaran ala film bollywood di kebun teh, kami memutuskan
untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.
Setelah
sebelumnya galau mau kemana lagi (talaga warna atau taman bunga atau.. de el
el) finaly kami memutuskan untuk menuju ke Taman Raya Cibodas. Dengan htm Rp.
15.000/org, bayar lagi parkir Rp. 7000 dan ternyata ada retribusi Rp. 8000
wkwkwk.. Kenapa gak dijadiin satu sekalian ya, jadi Rp. 30.000/org gitu. Jadi
gak bikin pengunjung linglung *cumasaran*
Di Taman
Raya Cibodas, saya gak terlalu menikmati suasana dikarenakan si Honey
sepertinya sedang kurang fit. kami hanya numpang istirahat leyeh-leyehsebentar
untuk kemudian kami bergegas kembali ke penginapan untuk mengobati si gantengku.
Gak apa lah, semoga kelak kami bisa kembali menjejakan kaki disini lagi dengan
kondisi badan yang lebih prima.
Waktu
menunjukan pukul 12 siang, kami tiba dipenginapan untuk kemudian minum obat dan
tidur. Alhamdulillah, terbangun dari tidur di jam 2 si ayang Honey udah seger
lagi dan bisa mesra-mesraan lagi *nyengir* Kami memutuskan untuk pulang ke
Tangerang karena sudah sangat rindu dengan hangatnya sinar mentari. Setelah
mandi, makan dan berkemas kamipun capcus meninggalkan kamar, suasana dan
kenangan indah di tempat itu. Bye bye Puncak.. *mewek*
Enggan
meninggalkan Puncak begiu saja, kami sempat merekam beberapa momen dari awal
sampai akhir perjalanan pulang.
*kretekkretek*
pegel jariku.
Oke lanjut
lagi, ehh.. tapi udah deh selesai perjalanan kami. Pokoknya ujug-ujug udah
nyampe Tangerang dan tepar, nyiiihaaa *nyengirkuda*
Day two,
done!








0 Komentar