![]() |
| Masya Allah Tabarakallah (1) |
04 Agustus
2019, keponakanku lahir kedunia, Masya Allah Tabarakallah. Menemani adik ipar
yang melahirkan kemarin, mengangkat kembali kenangan lamaku sewaktu melahirkan
anak pertamaku, Rayyan. Kurang lebih 4 tahun berlalu sejak hadirnya Rayyan ke
dunia kami, rasanya masih terasa baru saja kemarin ia sebesar timanganku, kini
ia telah beranjak menjadi bocah mandiri, aktif, ceria dan pandai menghibur ku.
Ya, akulah Bundanya, ucapku, bangga.
MENIKAH
![]() |
| Wedding 01 |
Sebelum
menikah berat badan ku hanya 36kg, haid ku pun tak lancar. Badan kurusku
kerapkali menjadi gunjingan orang-orang, bahwa aku ini katanya penyakitan dan kurang gizi. Netijen
memang sok maha benar, namun ada Allah 'Azza wa Jalla yang Maha Berkehendak.
![]() |
| Wedding (02) |
Sempet
drop, karena kelelahan bekerja, sidang, wisuda dan mempersiapkan pernikahan,
Alhamdulillah aku si ‘say-no-to-married-woman’ finally tertakdir menikah di
tanggal 17 Agustus 2014 dengan khidmat bersama pria terbaik sepanjang masa
(ku).
![]() |
| Wedding (3) |
Sebulan setelah menikah, berat badanku naik 2 kilo gram. Anggap saja
ternyata aku menikmati kehidupanku setelah menikah, kebetulan pula aku
memutuskan resign bekerja. Jadi wajarlah jika aku merasa kehidupanku setelahnya
terasa jauh lebih menentramkan.
KEHAMILAN
Bulan
kedua pernikahan, saat aku melakukan tes kesehatan dalam rangkaian tes masuk
kerja sebuah perusahaan besar di Kota Tangerang, aku hampir saja semaput dan
dianjurkan periksa ke dokter (malam harinya saya datang ke bidan). Terkejut,
ternyata bidan memvonisku hamil 2 bulan. Suami yang sedang menemanipun
terkejut, “apakah kami sungguh siap jadi orang tua?"
![]() |
| Pregnancy (3) |
Sempat
dianjurkan menunda kehamilan oleh pimpinan ditempatku bekerja saat itu, aku
memilih kembali resign saja. Apalah aku hanya wanita lemah, yang tak punya
banyak energi untuk menggapai dua masa depan yang berbeda dalam waktu
bersamaan, masa depan karir cita-citaku sendiri atau masa depan calon anak
dalam rahimku.
![]() |
| Pregnancy (2) |
“Rejeki itu
pasti, kemuliaanlah yang dicari” – Ibu Profesional.
Jujur saja
ini sulit, aku tak pernah merencanakan kehamilanku dalam waktu dekat karena aku
punya cita-cita sendiri yang siap kusambut. Namun, ajaibnya aku siap melepaskan
segalanya hanya untuk menjaga kehamilanku saat itu. Maha Besar Allah, Maha
Pembolak-Balik Hati.
Baca juga : Cerita
Kehamilan Pertama (My Amazing Pregnancy)
MELAHIRKAN
Mei 2015
Tibalah
bulan ke 9 kehamilanku, tepat sekitat menginjak minggu ke empat puluh. Di
bulan ke sembilan ini, saya jadi agak sering kontrol ke bidan, sangking parno
nya, takut brojol dijalan. Namun bidan menginstruksikan kami, untuk tetap
tenang dan tidak panik selama tidak ada keluhan aneh-aneh.
Sembari
menunggu gelombang cinta dari sang calon dedek bayi, bidan menyarankan saya
melakukan aktivitas yang bisa membantu mempermudah terbuka nya jalan lahir
dengan melakukan jongkok berdiri, jalan-jalan, berjalan diatas batu-batu kecil.
Bidan
memberi mandat, jika sudah keluar flek atau darah, saya bisa segera
memeriksakan diri, apakah sudah ada tanda akan melahirkan atau belum.
Malam hari,
di tanggal 30 Mei, saya mulai mengeluarkan flek, gak banyak sih, namun suami
segera membawa saya ke bidan keesokan harinya.
Jam 9 Pagi,
31 Mei 2015
Kami sudah
ada di bidan, dan ternyata baru bukaan 2. Bidan mempersilahkan kami
beristirahat saja diruang inap, sembari dikontrol per 2 jam sekali. Rasanya
sudah gak karuan, kontraksi berulang-ulang meski belum rutin, seharian saya gak
bisa menelan makanan, padahal seharusnya saya makan banyak-banyak untuk
mempersiapkan energi ketika sudah bukaan lengkap nanti.
Kontraksi
makin sering, suami yang sedari tadi menemani, membantu mengelus-elus pinggang
dengan harapan mengurangi rasa sakit yang tak tertahankan ini. Bidan mengajari
saya beberapa posisi yang bisa membantu mengurangi rasa sakit, seperti
membungkuk pada posisi duduk bersila, dan posisi berdiri. Juga posisi tidur
miring kiri yang lumayan berkurang sakitnya.
Jam 23.00,
31 Mei 2015
Sayangnya,
ketika telah tiba waktunya bukaan lengkap, saya malah K-O, lelah dan mengantuk
berat, akibat tak ada makanan yang masuk seharian dan sudah tidak bisa tidur
dari kemarin malamnya, terpaksa bidan memasangkan selang infus pada tubuh saya.
Bidan
mengintruksikan agar saya tidak mengejan sebelum diminta, beliau menyuntikan
beberapa kali obat, yang beliau sebut suntik induksi, saya awam perihal ini,
jadi saya manut saja, dan memohon kuat-kuat kepada Allah agar dimudahkan proses
persalinan ini.
Setelah
disuntik, semakin gak karuan rasanya, Yaa Allah. Infus yang menggantung seolah
tak jua mampu membantu saya untuk dapat kuat mengejan, “ayo bu, udah kelihatan
nih kepalanya, tanggung!” cetus sang bidan, heboh seisi ruang bersalin. Kangmas
suami diminta naik ke atas tempat tidur dan membiarkan saya tiduran
dipangkuannya untuk membantu agar posisi saya lebih pas untuk mengejan. It was
so dramatic, asisten bidan naik ke kasur juga membelakangi saya, untuk
‘weird-ly’ mendorong perut saya untuk membantu si dedek bayi keluar, ngeri
banget sih kalo diinget-inget, lagi-lagi akibat saya tidak kuat lagi mengejan.
Terdengar si
mama yang sedari awal ikut menemani saya disamping tempat tidur melantunkan
banyak doa, zikir sembari menangis. Tak kalah heboh dengan kangmas suami, ia
pun terdengar parau dengan doa-doa yang ia ucapkan sembari memangku dan
memegangi tangan saya sangat erat.
30 menit
sebelum hari perkiraan lahir (HPL) yang jatuh di tanggal 1 Juni 2015, bayi kami
lahir kedunia :
Rayyan, ia
lahir dengan BB 3.5 kg dan panjang 50 cm di hari Minggu, 31 Mei 2015 jam 23.30
WIB. Masya Allah, Tabarakallah..
Kulitnya
pucat awalnya, kulihat sekilas jenis kelamin nya, Alhamdulillah.. terlihat
bahwa dia adalah anak lelakiku yang sehat insyaAllah tak kurang suatu apapun.
Ia tak langsung menangis saat lahir, bidan melakukan suatu tindakan (kalo tidak
salah, beliau menyedot hidung si dedek dengan alat khusus) yang akhirnya saya
mendengar ia menangis untuk pertama kalinya. Kemudian suami izin untuk
mengazankan si buah hati kami yang masih merah saat itu.
Atas
lahirnya kamu kedunia ini, Bunda ikhlas mendoakan berjuta-juta kebaikan
untukmu, Nak! Jadilah sehat, shalih, muslih! Jadilah anak yang beruntung,
aamiin.
Nantikan
artikel selanjutnya ya : CERITA PASCA MELAHIRKAN.










0 Komentar