Sepeda
ini dibeli tepat setahun yang lalu, bulan Juli, tahun lalu. Dibeli dari angpao
lebaran Rays tahun lalu.
Selama
ini, sepeda tersebut dipakai sesekali, dua kali aja paling, itupun mainnya cuma
dipakai muter-muter di dalam rumah aja. Main 5 menit, bosen.
Senin,
minggu lalu, mendadak Rays minta kemana-mana naik sepeda, masih pakai roda
empat, ya ngaji, ya sekolah, tumben mau.
Senin,
minggu ini, dia minta lepas ban kecilnya.
Antara yakin gak yakin, ayahnya ragu-ragu. "Dedek bisa ayah,
beneran, plis, copot aja"
MasyaAllah,
bener aja, dia bisa.
Poin
nya bukan pada : yeelah, baru bisa naik sepeda aja girang.
Tapi
hikmah, bahwa MENDIDIK TIDAK MENDADAK.
Rays
gak bisa selalu saya paksa harus mau belajar ini dan itu, saat ini juga, jika
memanglah belum waktunya.
Tugas
kami ternyata hanyalah mengawal, amati kemana dia akan condong. Begitu tiba
saatnya ia meminta di ajari, maka itulah saat terbaik untuk mengajari.
Pengalaman
berharga sekali, buat ayah dan bunda. Bersyukur Allah anugerah peristiwa ini.
Kamu yang
jatuh berkali-kali, gak akan kalah sama yang baru aja ngerasain jatuh sekali. Sense
nya gak akan sama, ketangguhannya jelas akan berbeda, gak ada perjuangan yang
sia-sia.
Biar
aja dibilang, gedubrakan dari kemaren, emang udah bisa ngapain aja sekarang? Dibilang
lebay, sekolah mulu buang-buang duit, pinter nya mah gak seberapa.
Bukan
pinter doang kok yang dicari. Karena ada adab, akhlak, dan proses pembelajaran yang
lebih matang, dari pada sekadar pinter dadakan.
Proses,
gak akan menghianati hasil. Bahwa Allah membayar walau sebesar zarah.
Terimakasih sudah bersedia mampir dan menyempatkan membaca, saya akan
senang sekali jika teman-teman berkenan meninggalkan komentarnya dibawah ini – HENNY F LESTARI –

0 Komentar