Menjelang usia 31 kemaren, aku berasa kayak, mataku ini sedang terkena terjangan badai pasir, yang bahkan sampe sekarang mau melek aja aku masih takut, istilahnya begitu.
Allah
emang begitu sih, Alhamdulillah, mengabulkan doa-doa dengan cara yang sangat
mendidik. Jadi selain dapat pengabulan doa, aku juga dapat banyak bonus. Bonus
shut-up qiqiqi.. Pikiran makin diberatin untuk menyimpulkan. Diri makin
dituntun agar hati-hati dalam bertindak. Barakallah, saayang banget sama Allah.
Makin
diberatkan ilmunya, makin merunduk. Itu padi, kalo Sheila on Seven beda lagi.
Misal
diusia 20-30an aku masih menggebu-gebu, mambahas hal-hal gak prinsip. Ya
ternyata, itu semua cuma fatamorgana, sejatinya kita semua hanya diperbudak
oleh presepsi.
Contoh.
Kamu
sedih karena cuma bisa makan 1 kali sehari, alasannya karena gak punya uit.
Padahal ketika sudah diberi kecukupan untuk bisa membeli makanan bahkan membeli
bakso beserta gerobak dan abang baksonya sekalianpun, kamu tetep aja makan
sekali sehari, dengan dalih “diet”.
Sama-sama
makan satu kali sehari.
Hanya
beda presepsi.
Dan
gak seharusnya “presepsi memperbudak” kita.
Aku punya
cita-cita baru, pengen jadi pribadi yang merdeka. Tidak diperbudak, bahkan oleh
presepsi diri sendiri.
Dengan
begitu, proses fokusku akan jadi lebih mudah.
Yang
udah-udah ya gakpapa, namanya juga proses.
Saiki
yo saiki, haa emboh nek engkoo piye, sing penting prinsipe padhang lan ajeg.
Salam tahu tempe rendang sapi Indonesia.


0 Komentar